Halo, Sahabat Mikala
Banyak orang masih menganggap GERD dan maag adalah penyakit yang sama. Tidak sedikit pula yang menyebut semua keluhan lambung sebagai “maag”, padahal secara medis keduanya memiliki penyebab, mekanisme, dan penanganan yang berbeda.
Memahami perbedaan antara GERD dan maag sangat penting agar seseorang dapat mengambil langkah penanganan yang tepat dan tidak mengabaikan gejala yang sebenarnya membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.
Apa Itu Maag?
Sahabat Mikala, istilah “maag” yang umum digunakan masyarakat biasanya mengacu pada kondisi gastritis, yaitu peradangan pada lapisan dinding lambung.
Peradangan ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:
- Pola makan tidak teratur.
- Terlalu sering mengonsumsi makanan pedas atau asam.
- Konsumsi obat antiinflamasi tertentu dalam jangka panjang.
- Infeksi bakteri Helicobacter pylori.
- Stres yang berkepanjangan.
- Konsumsi alkohol berlebihan.
Ketika lapisan lambung mengalami iritasi atau peradangan, seseorang dapat merasakan berbagai keluhan yang cukup mengganggu.
Apa Itu GERD?
GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang.
Hal ini terjadi karena katup yang berada di antara lambung dan kerongkongan tidak dapat menutup dengan sempurna, sehingga isi lambung termasuk asam lambung mudah naik ke atas.
Berbeda dengan maag yang berfokus pada peradangan lambung, GERD lebih berkaitan dengan gangguan aliran asam lambung ke kerongkongan.
Perbedaan Gejala GERD dan Maag
Meskipun beberapa gejalanya mirip, ada beberapa perbedaan yang cukup khas.
Pertama kita pahami terlebih dahulu Gejala Maag (Gastritis). Penderita maag biasanya mengalami:
- Nyeri atau perih di ulu hati.
- Perut terasa penuh atau kembung.
- Cepat kenyang saat makan.
- Nafsu makan menurun.
- Kadang disertai muntah.
Keluhan umumnya lebih terpusat pada area lambung.
Sedangkan GERD, gejala yang sering muncul antara lain:
- Sensasi terbakar di dada (heartburn).
- Rasa asam atau pahit di mulut.
- Asam lambung terasa naik ke tenggorokan.
- Sulit menelan.
- Batuk kronis terutama malam hari.
- Suara serak saat bangun tidur.
- Sensasi mengganjal di tenggorokan.
Karena melibatkan kerongkongan, keluhan GERD sering terasa hingga ke dada dan tenggorokan.
Bisakah Seseorang Mengalami GERD dan Maag Sekaligus?
Jawabannya adalah bisa.
Sahabat Mikala, seseorang dapat mengalami peradangan lambung sekaligus memiliki gangguan refluks asam lambung. Karena itu, pemeriksaan medis sering kali diperlukan untuk memastikan penyebab utama keluhan yang dialami.
Banyak orang mengira hanya mengalami maag biasa, padahal ternyata sudah mengalami GERD yang membutuhkan penanganan lebih spesifik.
Apa Saja Faktor Risiko GERD?
Beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko GERD antara lain:
- Makan dalam porsi besar.
- Langsung berbaring setelah makan.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Konsumsi makanan berlemak tinggi.
- Terlalu sering mengonsumsi kopi atau minuman berkafein.
- Konsumsi minuman bersoda.
Karena itu, perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dalam pengelolaan GERD.
Cara Mencegah GERD dan Maag
Kabar baiknya, banyak kasus GERD maupun maag dapat dikurangi dengan kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Makan secara teratur.
- Menghindari makan berlebihan.
- Mengurangi makanan yang terlalu pedas, asam, atau berlemak.
- Tidak langsung berbaring setelah makan.
- Menjaga berat badan ideal.
- Mengelola stres dengan baik.
- Menghindari merokok dan konsumsi alkohol.
Langkah sederhana ini sering kali memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan lambung dan saluran pencernaan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Sahabat Mikala, jangan menunda pemeriksaan apabila mengalami:
- Nyeri dada yang berat.
- Muntah berulang.
- Sulit menelan yang semakin memburuk.
- Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
- Muntah darah atau BAB berwarna hitam.
- Keluhan yang tidak membaik meskipun sudah mengubah pola hidup.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Mikala Global Medika Siap Mendampingi Kesehatan Keluarga
Masalah kesehatan pencernaan sering kali membutuhkan pemantauan dan konsultasi yang tepat, terutama pada lansia atau pasien dengan penyakit penyerta lainnya.
Melalui layanan dokter visit, perawat medis, homecare, caregiver, serta layanan kesehatan terpadu, Mikala Global Medika membantu keluarga mendapatkan pendampingan kesehatan yang lebih nyaman tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan.
Dengan tenaga profesional yang berpengalaman, keluarga dapat memperoleh edukasi dan pemantauan kesehatan yang lebih optimal langsung dari rumah.
Sahabat Mikala, GERD dan maag memang sama-sama berkaitan dengan sistem pencernaan, tetapi keduanya adalah kondisi yang berbeda.
Memahami gejala, penyebab, dan cara pencegahannya dapat membantu kita mengambil langkah yang tepat sebelum keluhan berkembang menjadi lebih serius.
Karena menjaga kesehatan pencernaan bukan hanya tentang menghilangkan rasa tidak nyaman, tetapi juga menjaga kualitas hidup agar tetap optimal setiap hari.
With Love We Serve
Menjaga kesehatan keluarga dimulai dari pemahaman yang tepat dan tindakan yang bijaksana.
***
Referensi
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2024). Definition & facts for GERD. Retrieved from https://www.niddk.nih.gov
Mayo Clinic. (2024). Gastroesophageal reflux disease (GERD). Retrieved from https://www.mayoclinic.org
Cleveland Clinic. (2024). Gastritis. Retrieved from https://my.clevelandclinic.org
National Health Service. (2024). Heartburn and acid reflux. Retrieved from https://www.nhs.uk



